Rabu, 09 Mei 2012


cerita tentang cinta dalam lorong lorong kamar rumah sakit
Lorong-lorong kamar rumah sakit itu mulai sepi. Lorong-lorong kamar rumah sakit itu mulai sepi. Malam kian larut. Para pembesuk semakin jarang terlihat. Disudut-sudut bangunan penunggu pasien secara berkelompok menggelar tikar untuk alas tidur. Sebagian diantara mereka masih asyik bercengkarama. Sebagian yang lain telah tidur kelelahan. 

Kamar perawatan itu terletak di ujung selatan Rumah Sakit tersebut. Diatas pintu tertulis ''ICU", tak semua pasien boleh masuk ruangan tersebut. Di ranjang nomor lima, seorang gadis muda terbaring lemas. Ia menggunakan selang oksigen, nafasnya naik turun tak beraturan. Ia masih terjaga namun mengalami shock yang parah. Matanya sesekali terpejam dan sesekali terbelalak tajam menatap ke langit-langit kamar. Mulutnya kadang terbuka seolah ingin berteriak, namun hanya lirihan kecil yang terdengar. Air matanya pelan menetes membasahi pipi. Suasana sangat syahdu. 

Disampingnya, ayah dan ibunya hanya bisa memandang penuh iba. Sang ayah bibirnya terus berkomat-kamit membaca doa. Sementara sang ibu tak mampu lagi memandang penderitaan anak gadisnya. Ia hanya terus menangis dan mengusap rambut anak nya tercinta. Keluarga itu tampak belum bisa menerima dengan kejadian yang menimpa anak gadisnya malam ini. Santi, nama putrinya tersebut, baru saja tertimpa kejadian yang tak akan dapat dilupakan sepanjang hidupnya. Beberapa jam lalu ia diperkosa oleh tiga teman sekolahnya !!!. Kejadiannya sangat cepat dan tak terduga. 

Berawal dari acara perpisahan kelas III yang diadakan di salah satu rumah temannya. Ketika acara usai, Santi menunggu sang ayah yang berjanji akan menjemputnya. Namun ayahnya terjebak kemacetan karena hujan selama berjam-berjam. Muncullah tiga temannya Andi, Ryan dan Jefrri menawari untuk mengantarkannya. Santi ikut saja naik ke mobil kijang Andi karena ia tahu rumah Jefri hanya beberapa blok dari rumahnya. Ternyata Santi salah sangka. Andi yang memang terkenal berandal di sekolah, rupanya baru saja menenggak beberapa butir pil ekstasi. Begitu juga dua temannya, Jefri dan Ryan. Andi mengarahkan mobilnya ke jalanan yang sepi. Dan terjadilah pemerkosaan keji itu. Santi yang malang ditinggalkan dengan pakaian berantakan di ujung jalan menuju rumahnya. Santi pingsan, ia mengalami shock berat ditambah penyakit asmanya yang juga kambuh. Dokter memperkirakan Santi akan mengalami trauma berkepanjangan secara psikologis. 

************* 

Ruangan berdinding tebal itu terasa gelap mencekam. Salah satu sisinya dibatasi oleh jeruji besi yang kokoh dan tebal. Sinar bulan malu-malu menerobos celah-celah jeruji tersebut, menerangi sisi depan ruangan itu. Luas sel penjara itu hanya berkisar empat kali delapan meter persegi, namun penghuninya mencapai tiga belas orang. Semua penghuni sel nomor B 32 LP Cipinang itu sedang tidur nyenyak. 

Dinginnya udara musim hujan cukup menjadikan alasan bagi mereka untuk terus terlelap dalam mimpi-mimpi indahnya. Namun di salah satu sudut sel itu, tampak sesosok pemuda tertunduk dalam duduknya. Ia baru saja selesai melakukan shalat tahajjud. Ia masih saja menumpahkan seluruh penyesalannya kepada Allah SWT, teringat perbuatan kejinya tiga minggu yang lalu. Ia benar-benar tak menyangka kalau segelas sirup yang ditawarkan dua temennya, Andi dan Jefri, ternyata campuran beberapa pil setan yang selama ini tak pernah di sentuhnya. Minuman itu membuat jiwanya serasa melayang. Kemudian ia pun ikut saja ketika dipaksa kedua karibnya untuk ikut memperkosa Santi, teman perempuannya satu sekolah. Ia baru sadar ketika borgol polisi bersarang di kedua pergelangan tangannya. Ryan, demikian ayahnya memberi nama, masih tak percaya dengan perbuatannya. 

Kini ia merasa seluruh dunia menghakiminya. Bayangan ayah, ibu, dan kakeknya terus membuntutinya. Bayangan Santi dan keluarganya juga selalu muncul dalam benaknya. Mereka semua seolah ingin bersama-sama membunuh Ryan. Aaah,…Ryan kembali tertunduk lemas. Kepalanya tersungkur bersujud menempel di lantai penjara yang dingin. Mulutnya terus beristighfar meminta keampunan. Butir-butir airmata dan isak tangisnya tak kunjung mereda. 

Dinding-dinding penjara menjadi saksi pertaubatannya. Sudah tiga minggu ini Ryan ditahan di sana bersama napi-napi kriminal lainnya. Kasusnya sekarang sedang diproses di pengadilan Dua temannya, Andi dan Jefri, masih kabur entah kemana. Tadi pagi di persidangan, jaksa membacakan tuntutan kepadanya hukuman minimal tiga tahun penjara. Ryan merasa masa depannya sudah tamat. Keinginannya untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta terhapus sudah. Hari-harinya kini akan dilalui bersama para narapidana lainnya. Mantan aktifis di sekolahnya itu tak pernah menyangka bahwa jalur hidupnya akan berubah seperti ini. 

**************** 

Enam tahun berselang …… Matahari siang tampak terasa menyengat. Ratusan wajah ceria baru saja keluar dari Gedung serba guna Universitas Indonesia Depok. Sebagian besar di antara mereka menggunakan baju toga. Sinar cerah kebanggaan muncul dari para orangtua yang menyertai upacara wisuda putra-putrinya. Hari itu Fakultas Psikologi UI kembali melepas mahasiswa-mahasiswi terbaiknya. Seorang perempuan berjilbab dan berbaju toga tampak masih sibuk berfoto dengan keluarganya. Sejurus kemudian muncul beberapa wartawan kampus yang mengerubutinya. 

Mereka mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Nampaknya sosok perempuan berjilbab dan bertoga itu cukup berpengaruh di kampus tersebut. " Selamat Mbak Santi , bagaimana perasaan anda menjadi lulusan terbaik tahun ini ?", salah seorang wartawati berkacamata langsung menyodorkan pertanyaan. 

" Terima kasih adik-adik semua, ini semua karena Allah dan dorongan dari keluarga, temen dan juga adik-adik… ", jawab perempuan itu dengan halus. 

" Terus apa rencana Mbak setelah ini, apakah Mbak menerima tawaran untuk mengajar di fakultas ini ? bagaimana juga dengan LSM pembinaan siswa SMU yang Mbak pimpin ? ", wartawan lain tak kalah semangat ikut bertanya. 

" Dalam waktu dekat ini, insya Allah saya masih akan aktif di LSM. Selain itu, saya juga akan mempersiapkan untuk mengambil progam S2.." Seorang wartawan berambut gondrong dengan muka serius bertanya, " Bagaimana dengan rencana pernikahan ? Apakah kami-kami ini para yunior masih mempunyai kesempatan …? ". 

Wartawan yang lain ramai tersenyum kompak. Sementara raut muka Santi malah berubah muram. Ia segera minta izin untuk menyingkir dari kerumunan tersebut. Pertanyaan yang terakhir tadi cukup membuatnya  bersedih. Ia sangat takut dengan kata pernikahan. Ia bahkan pernah bertekad untuk tidak akan menikah seumur hidup. Santi nampaknya masih cukup trauma dengan kejadian enam tahun yang lampau. Kejadian yang memporak- porandakan jiwa dan kehormatannya sebagai seorang gadis. 

***************** 

Pesawat British Airways dengan nomor penerbangan 314 baru saja mendaratkan rodanya di Bandara Internasional Sukarno-Hatta. Seorang pemuda tegap berpakaian rapi keluar dari pintu keluar penumpang. Rambutnya tertutup topi putih berlambang bulan sabit merah. Tatapannya teduh mengitari seluruh kawasan bandara. Ia membawa begitu banyak koper bawaan. Pemuda itu menoleh kiri dan kanan, ia masih tampak asing dengan suasana bandara, bahkan suasana Jakarta. Maklumlah, sudah hampir lima tahun ia meninggalkan Indonesia. Tak berapa lama, sebuah Taksi meluncur bersama pemuda tersebut, mengantarkannya menuju ibu kota. 

" Dari luar negri ya Nak, dimana tuh ? kuliah atau kerja ? " , sopir Taksi yang berusia empatpuluhan itu membuka pertanyaan. 

 " Dari Inggris Pak, Nama saya Ryan, saya baru lulus kuliah kedokteran. Oya, nama Bapak siapa ? ", pemuda yang bernama Ryan itu menjawab dengan akrab. 

 " Saya Anwar, asli Jawa Tengah. Kalau saya ini cuma lulusan SMP nak, jadi supir taksi saja udah beruntung, nggak kayak sampeyan …" 

" Masa lalu saya kelam Pak. Allah-lah yang membimbing saya hingga berhasil lulus seperti sekarang ini. Alhamdulillah…" Taksi terus meluncur menuju pusat kota Jakarta. Pemuda itu adalah Ryan, mantan narapidana kasus permerkosaan enam tahun lalu. Waktu itu pengadilan menjatuhkan vonis baginya hukuman dua tahun penjara. Setelah melewati masa hukuman, Ryan meninggalkan tanah air untuk belajar kedokteran di Inggris. Ia ingin melupakan segala kenangan pahitnya di masa lalu. Ryan sekarang adalah seorang dokter. Ia juga aktifis lembaga "Bulan Sabit Merah ", sebuah lembaga kemanusiaan dan kesehatan internasional yang bertugas menangani daerah-daerah konflik . Empat tahun sudah ia meninggalkan tanah air, kini ia ingin berbuat lebih untuk bangsanya. 

************* 

Bus Patas empat arah Pulogadung-blok M seperti biasa, pada jam-jam duabelas, terasa agak lenggang. Hanya beberapa penumpang yang berdiri bergelantungan. Sementara arus jalan tol Cawang agak padat. Setiap kendaraan melaju berurutan dengan kecepatan sedang. Santi duduk di barisan keempat dari depan. Ia masih sibuk dengan tiga lembar makalah singkat yang ditulisnya sendiri. Siang itu ia dapat undangan mengisi ceramah yang diadakan teman-teman UIN, Rawamangun. Sebagai seorang aktifis LSM, Santi memang sering diundang berbicara di kalangan kampus. Tiba-tiba seorang pemuda berbadan tegap maju ke depan dan berdiri menghadap penumpang. Pakaiannya rapi, ia membawa sebuah tas koper kecil. Ia memulai pembicaraan dengan salam dan pembukaan yang santun. Perkataan yang keluar dari mulutnya pun terasa akrab. 

 "…. .. perkenankanlah kami membagikan buletin ini, agar kita semua tahu dan peduli dengan apa yang menimpa saudara kita sesama muslim. Baik itu di Aceh, Maluku, Poso, Sampit, bahkan di Palestina dan Afghanistan. Apabila bapak dan ibu ingin informasi lebih banyak, silahkan hubungi alamat kami sebagaimana tertera dalam buletin …." 

Hampir lima menit pemuda itu berbicara. Setelah itu ia membagikan buletin secara gratis kepada tiap penumpang. Sebagian penumpang menunjukkan perhatian yang lebih terhadap pemuda tersebut. Bukan saja karena ia berpenampilan rapih, namun juga karena tutur katanya yang halus dan santun. Selain itu, pemuda ini juga tidak menjual nama organisasi untuk mengumpulkan dana sebagaimana yang lainnya. Santi sibuk mengulang-ulang beberapa bagian dalam makalahnya. Ia tidak peduli dengan celotehan sang pemuda. Mulanya Santi mengira pemuda itu hanya akan meminta dana sumbangan untuk masjid atau yang lainnya. Namun Santi salah sangka. Pemuda itu ternyata hanya ingin membagikan sebuah buletin tentang kemanusiaan. Dengan agak penasaran, sekilas Santi melirik ke arah pemuda yang masih sibuk membagi buletin tersebut. Ternyata yang dilihatnya adalah sosok yang dikenalnya sekitar enam tahun lalu…… 

 " Haaaa…. Ryyyyyaaan …???", Santi berteriak lirih. 

Ia terkejut bukan kepalang. Ingatannya segera melayang ke kejadian yang menimpanya enam tahun lalu. Wajahnya tertunduk dan raut mukanya memerah, dadanya terasa menggelegak. Ia menyimpan gejolak dendam yang amat sangat. Ia tak menyangka akan bertemu dengan orang yang telah memperkosanya, orang yang menghancurkan kehormatannya . Namun benarkah ia Ryan ? Benarkah ia sudah bebas ? dan apa urusannya dengan organisasi kemanusiaan ? Bukankah ia penjahat pemerkosa wanita ?. Santi menutup mata rapat-rapat. Kejadian itu masih membayanginya. Dalam hati ia bersyukur karena Ryan tak mengenalinya, mungkin karena ia kini berjilbab. Atau mungkin karena pandangan mata Ryan yang selalu tertunduk tidak liar seperti dulu ?. Santi bungkam, seribu satu pertanyaan dan kegalauan berkecamuk di benaknya. 

************* 

Ruang keluarga itu tak begitu luas, tapi susunan interiornya menandakan penghuninya mempunyai citarasa seni yang tinggi. Santi duduk santai membaca beberapa buku seri psikologi terbarunya. Ayahnya sibuk mencermati judul-judul sebuah harian sore ibukota. Sang ibu nampak datang dari arah dapur dengan senyuman khasnya. Ibu Santi memulai pembicaraan, 

 " Santi sayang, kamu sudah siap untuk berkeluarga belum ..", Santi kaget dengan pertanyaan dari ibunya yang tak disangka-sangkanya itu. 

 " Maksud ibu ..? menikah ? ….nggak, Santi belum siap ", dengan agak santai Santi menjawab. 

Memang benar, selama ini Santi selalu menghindar ketika ditanya tentang pernikahan. Ia masih trauma dengan kejadian masa lalunya. Ia selalu menganggap tak pantas untuk menikah. Lebih dari itu, ia juga tidak gampang percaya lagi dengan laki-laki manapun. 

" Kenapa Ibu tiba-tiba bertanya seperti itu ..?", Santi balik bertanya. 

" Tadi ada yang datang melamarmu, ia ingin menikah denganmu..". Suara ayahnya terdengar seperti petir menyambar telinga Santi. 

Ia kaget bukan kepalang, hatinya berdegup kencang. Siapakah gerangan yang berani melamarnya ? Ibunya menambahkan sambil mengusap rambut Santi, " Ia seorang dokter lulusan London, kini bekerja di RS Cipto dan aktif di organisasi kemanusiaan. Kamu sudah mengenalnya sebelum ini Santi…. " 

" Haaah !! Santi mengenalnya ? Siapa di Bu ?", potong Santi dengan cepat. Rasa penasarannya semakin memuncak. Kini giliran ayahnya yang mengangkat suara, " Dia adalah Ryan, teman SMA mu dulu…." 

" Ryan ??? Tidak mungkin..!!! Ayah dan Ibu menyetujuinya ???, dia adalah penghancur masa depan Santi !! tidak mungkin Santi menikah dengannya …", Santi berkata dengan sedikit emosi. 

Ingin rasanya ia menumpahkan kekesalannya pada kedua orangtuanya yang mendadak mempunyai pikiran seperti itu. 

" Tapi ia sudah bertaubat Santi, bukankah ia juga sudah mendekam di penjara selama dua tahun ? " 

" Bagaimanapun seorang penjahat tetap penjahat, relakah ayah dan ibu kalau Santi bersuamikan seorang penjahat ..!!" 

" Tapi ia bukan penjahat Santi, ….. ia kini ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada mu dulu…" 

 " Tidaaaak…… tidaaaak… ". Santi berteriak histeris. Ia berlari menuju kamar dengan cepat, dikuncinya pintu dari dalam. Di atas pembaringan ia menumpahkan kekesalannya dengan menangis sedalam-dalamnya. Ia tak percaya kalau kedua orangtuanya mnedukung lamaran Ryan. Baginya Ryan adalah penjahat, sampah masyarakat yang tak berhak untuk hidup berkeliaran, apalagi menikah dengan dirinya !. 

********** 

Dua bulan lewat, Santi merasa lebih tenang. Ayah dan ibunya bisa memahami penolakannya terhadap lamaran Ryan. Ia kini disibukkan dengan serangkaian tugas lapangan di LSM yang dipimpinnya. Hari itu, sepulang dari kantor LSM-nya, Santi bergegas masuk kamar. Setelah berganti pakaian, seperti biasa ia memilih duduk santai di ruang keluarga untuk membaca buku-buku koleksi terbarunya. Tak sengaja ia melihat ke lembaran koran sore di atas meja yang belum sempat di baca ayahnya. Ada sebuah judul berita yang menarik perhatiannya. Dibacanya berita itu dengan lebih teliti, …… 

" Pesawat tempur AS kembali salah sasaran dalam serangkaian pengeboman Selasa malam di tepi utara kota Kandahar, Afghanistan. Sebuah instalasi kesehatan darurat terkena bom membabi buta yang mengakibatkan sedikitnya 32 orang gugur. Seorang sukarelawan muda asal Indonesia bernama dr. Ryan, 25 tahun, ikut gugur dalam peristiwa pemboman tragis tersebut….. 

" Santi terhenyak dari tempat duduknya. Ia membaca berita itu sekali lagi, dua kali, dan berulang-ulang kali seolah tak percaya. Ia terduduk dengan lemas. Lembaran koran itu lepas begitu saja dari genggamannya. Matanya nanar memandang ke langit-langit rumahnya. Pandangannya kosong, matanya mulai berkaca-kaca. Ryan, pemuda yang paling dibencinya, gugur dalam perjuangannya membantu korban perang di Afghanistan. Ada perasaan kehilangan bergermuruh di dadanya. Butiran-butiran air mata Santi mulai menetes membasahi pipinya. Ia berdoa lirih, 

" Ya Allah….. maafkanlah Ryan, Ya Allah…. Ampunilah dosa-dosanya, karena sesungguhnya…. aku telah memaafkannya… ".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar